Surat Cinta




Menemukanmu dengan cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya adalah bukti kekuasaan Allah yang luar biasa.
Di kala hati sedang lelah berpatah hati, saat dosa maksiat masih cukup sering dilakukan, Allah 'menghadiahkan' dirimu dari arah yang tak terduga. 
Jawaban doa? Mungkin, entah doa yang mana dan dari siapa. Yang pasti akhirnya semakin kusadari bahwa Allah Maha Baik.
Itu pula yang membuatku pasrah total ke Allah saat menjalani proses sebelum menghalalkanmu. Berusaha menjalani proses dengan cara yang sesuai tuntunanNya, terserah mau dibawa kemana sama Allah. Jadi ya alhamdulillah, tak jadi cari yang lain.
Fortunately, akhirnya kau masih ditakdirkan untuk hidup bersamaku. Welcome to the jungle istriku.

Pernikahan selalu terbayang yang indah-indah, yang enak-enak dipikiranku saat masih bujang. Pacaran secara halal, bermesraan, bikin anak, mengasuh anak yang lucu-lucu, hingga menikmati hidup bahagia berdua di masa tua. Itu kan yang ada di pikiran para jomblo kebanyakan? Maklum, karena bagi kebanyakan jomblo, hidup sendiri itu penderitaannya tiada akhir, hehe. Walaupun mungkin memang itu anugerah Allah atas apa yang dihalalkannya. Buktinya, akupun merasakan masa-masa romantisme itu, meskipun usia pernikahan baru seumur jagung.
Ngomong-ngomong tentang jomblo, mari doakan mereka para jomblo yang sedang berjuang dengan cara yang baik, semoga Allah kuatkan.

Anyway, kata orang yang berlebihan itu tak bagus. Begitu pula pernikahan kita, tentu tak hanya manis manisnya thok kan, hehe.. Agar hidup ini balance dan semakin menarik, Allah juga kasih ujian. 
Ujian pertama, pastinya adaptasi. Dua pribadi kita dengan karakter yang berbeda, dari keluarga yang berbeda suku, budaya, dan karakter, serta membawa masalah masing-masing yang spesial. Uniknya, kita sama-sama anak pertama, jadi kalau sedang tinggi egonya ya bentrok, sementara saat sedang waras ya saling ngalahnya nomor satu. Dan baiknya Allah, ada banyak momen yang membuat kita cepat untuk saling mengenal, memahami dan tau pribadi masing-masing. Entah dengan masalah atau dengan curhat colongan.
Ujian kedua, urusan domestik vs me time. Dua hal yang seharusnya tidak jadi dualisme, tetapi cukup sering berseberangan saat kita tidak tau prioritas, waktu, dan tak mau berkorban. Urusan domestik yang sepele mulai dari cuci baju, cuci piring, nyapu, ngepel, nyikat kamar mandi, hingga urusan yang besar seperti benerin air bocor, mesin cuci error, dan urusan lain cukup dapat menyita waktu me time atau romantisme. Apalagi saat sudah dikasih momongan, waktu me time paling tinggal secuil. 'kerennya' kita saat ini sama-sama prinsip tak perlu pembantu. Jadi, kita perlu mau berkorban, tahu waktu, prioritas, dan mulai belajar untuk berkolaborasi. Karena urusan domestik, walaupun terkadang sepele, bisa jadi bom waktu kalau diatur dengan baik.
Ujian ketiga, karir dan finansial. Ini hal yang selama ini belum kita pikirkan tetapi cukup critical. Apalagi di awal-awal pernikahan ini kita cukup terlena dengan Go Food dan makanan-makanan enak di bandung, tak terasa digit di ATM sekarat di akhir bulan, atau malah menumbalkan tabungan. Urusan finansial mulai kita sadari apalagi saat 'si bocil' sudah semakin lincah jajannya dan menyambut kelahiran adiknya 'bocil'. Finansial dan karir perlu direncanakan, kaitannya dengan pendidikan anak di masa depan, dana pensiun, hingga hak waris anak. Lebih dari itu, kita pun harus melakukan investasi akhirat dengan sedekah. Yang akhirnya, kita sama-sama berikrar untuk Mencari Harta yang Bisa dibawa Mati. Itulah visi karir dan finansial kita.

At the end, layaknya hampir semua kehidupan rumah tangga manusia, selalu ada disetiap ujian itu disertai kemudahan dan kebahagiaan. Seperti bagian dari mahar yang kau minta : "Inna ma'al 'usri yusron, fainna ma'al 'usri yusron".
 Kuncinya adalah pengorbanan. Oleh karena itu mungkin inilah yang dinamakan menyempurnakan separuh agama, banyak aktifitas di rumah tangga yang bisa bernilai pahala asal kita ikhlas menjalani lillahi ta'ala. 

Tetap semangat istriku sayang, semoga Allah meridhoi langkah kita.

Semoga berkah, sakinah, mawaddah, warahmah, dan betah.


Ilham Doni Tamara
Bandung, 31 Januari 2021
Ditulis saat tak bisa tidur setelah gajian

Komentar